SHOW MUSIK

Dunia Entertainment

Tentang Musik

Manusia secara psikologis akan terbawa emosi melalui apa yang sedang didengarnya. Jika seseorang mengucapkan sesuatu dengan kepanikan, kemarahan, atau candaan maka orang mendengarnya akan cenderung ikut panik, marah atau canda. Begitu pula dengan musik. Musik bisa membuat seseorang bahagia bersama teman-temannya, atau bernostalgia mengingat mantan kekasihnya, atau bersemangat mengerjakan pekerjaan, atau hal-hal semacamnya. Selain itu musik juga dapat membuat kita teringat akan hal yang terjadi di masa lalu. Apabila manusia mendengarkan musik sambil melakukan atau terjadi sesuatu, maka di masa yang akan datang ketika ia mendengarkan musik itu, ia akan teringat dengan kejadian yang terjadi atau dilakukannya dulu. Tak heran ada orang yang tak mau mendengarkan suatu lagu karena sedih mengingat hal itu atau bahkan pernah trauma. Hal ini pada umumnya terjadi pada setiap orang.

Musik adalah bahasa universal. Orang Sunda mengataka amis jika melihat perempuan yang cantik, tetapi perempuan Jawa akan marah bila dikatakan amis karena amis itu untuk ikan. Padahal arti amis dalam bahasa Sunda itu “manis”. Orang India akan menggeleng-gelengkan kepala untuk menjawab “ya”, tetapi orang Indonesia akan menjawab “ya” dengan mengangguk-anggukan kepala. Ada pula homofon (bunyinya sama tetapi berbeda), yang banyak terdengar di bahasa Inggris, contoh: eyes (mata) dengan ice (es), see (lihat) dengan sea (laut), hear (dengar) dengan here (di sini). Hal demikian tidak terjadi pada musik. Do di Amerika, sama dengan do di Indonesia. Kunci C di Inggris, sama dengan kunci C di China. Seluruh dunia (meskipun tidak ada persetujuan secara langsung) tahu nada minor kebanyakan akan memainkan lagu-lagu sedih, sedangkan nada mayor untuk lagu-lagu senang. Dalam kemiliteran, musik-musik yang dimainkan adalah musik-musik yang bertempo cepat. Untuk film-film sedih, lagu akan cenderung dengan tempo lambat.

Inilah sebabnya musik dikatakan sebagai bahasa universal.